Setiap orang pasti pernah punya hati yang ternoda.
Rasa kagum ataupun cinta pasti pernah hadir menyelip di sela-selanya.
...Tidak apa-apa itu fitrah.
Tapi yang jadi masalah adalah pilihan kita terhadap tindakan selanjutnya. Apakah rasa itu qt pupuk agar semakin indah, kita diamkan disudut terdalam, atau kita coba tekan dan redam. Yang pasti, sangat susah utk menghapusnya begitu saja,,,
Rasa itu hadir, tak peduli siapa penghuni sang hati.
Seorang Da'I pun tak lepas dari tamu yang satu ini.
Ia bisa mendatangkan rahmat, jika ia datang pada hati yang tepat.
Hati dua insan Allah yang telah mengumandangkan ijab kabul.
Tapiii ia juga bisa mendatangkan murka, jika ia memancing maksiat, walaupun itu hanya "sekedar" zinanya hati yang merindu pada 'ia' yg belum halal untukmu,,,
Memang susah, karena sejatinya ia adalah fitrah.
Tapiii, bukankah kita sudah ditempa oleh Tarbiyah???
Kita mengaku sang aktivis dakwah.
Maka masih pantaskah rasa yang belum halal itu hadir menyemai bunga di hati kita???
Ia yang selalu menerima sms-sms perhatian kita???
Ia yang menodai ikhlas kita dalam amal yang tak seberapa???
Naudzubillahi mindzalikh,,,
Betapa durhakanya kita, jika menggantikan singgasana yang seharusnya menjadi tempat Rabb Tertinggi, Sang Pemilik Cinta Abadi, dengan ia yang hanya manusia biasa.
Betapa durhakanya kita, jika demi meng-sms-sms-nya kita pertaruhkan larangan Rabb kita,,,
Betapa durhakanya kita mengkhianati Sang Pemberi semua cinta di sekelilingi kita,,,,
Ingatan ana, bahwa prajurit-prajurit yang menemani perang Rasulullah adalah mereka yang malam-malamnya ditempa dengan sujud-sujud panjang, jauh dari maksiat kecil apapun.
Lalu apa harapan kita pada dakwah yang diusung oleh orang-orang yang hati dan sikapnya ternoda????
Pernah, ada seorang akhwat bercerita pada ana, tentang seorang lelaki yang Alhamdulillah sudah jadi ikhwah (benarkah???)
Ia,,, masih sering meng-sms akhwat itu, dengan panggilan "adikku", dengan nada-nada yang mencerminkan perhatian.
Di akhir salah satu sms-nya, ia berpesan "jangan ceritakan ma orang lain ya?!!"
Sungguh, aku tertawa dalam hati.
Betapa munafiknya ia, membohongi dunia dengan penampilan ikhwannya.
Ga ada artinya!!!
Kau ingin orang lain menilaimu sebagai seorang alim, lalu tak pedulikan Allah padamu?!!!!!!
Untukmu dan juga untukku, dan semua yang mempunyai ilmu,,
kita yang seharusnya menjadi barisan terdepan untuk mengingatkan orang-orang tentang cinta hakiki Ilahi Rabbi,,,
buka barisan terdepan dalam daftar "yang berguguran dijalan dakwah" atau "yang tidak sehat tarbiyahnya" atauuuu,,,, entahlah,,,,,
Memang susah, karena sejatinya ia fitrah.
Tapiii cobalah bertahan, jaga sikap dan padangan atau segerakanlah pernikahan atau berpuasalah,,,, yang pasti, jika kita bertahan dalam puasa hati yang panjang ini, Allah akan menghadirkan pembuka yang istimewa, yang didapatkan dengan perjuangan dalam menjaga dan RidhoNya... Sudah pasti menaungi rumah tangga kita.
Ingat kisah Ali dan Fatimah??
Bukankah kisah cinta mereka seharusnya menjadi teladan.
Saat ijab kabul telah diucapkan, ada Rahasia yang terbuka. Bahwa satu sama lain pernah saling mengagumi.
Tetapi Subhanallah,,, begitu besar penjagaan mereka terhadap hati yang rapuh.
Hingga syaitan pun tak berhasil meraba ada cinta yang pernah ada. Dan saksikanlah siapa yang memperjuangkan cinta mereka.
Allah, Sang Maha Segalanya, Betapa indahnya, bahkan langitpun menjadi saksi,,,
Tak inginkah kita untuk berharap mengalaminya???
Allah-lah yang memperjuangkan cinta kita, hingga saat skenario terindah itu terlaksana dengan bangga kita berkata "pernah ada kagum yang tak terucapkan,,,,"
♥ Rasa itu hadir, tak peduli siapa penghuni sang hati..
Hingga saat skenario terindah itu terlaksana dengan bangga kita berkata,,
"pernah ada kagum yang tak terucapkan,,,,"
"Muslimah itu anugrah, ia lembut tapi tak lemah, mempesona tapi bersahaja, ia mengerti bagaimana menjaga akhlak dan kemuliaannya, menjaga dirinya dari yang bukan mahram, begitulah ia seharusnya, ia akan istimewa!"
Kamis, 01 Desember 2011
AYAH...
Masih ingatkah engkau
Disaat mentari merah mewarnai awan
Membawa membawa kesan dalam hatiku
Yang penuh dengan kepalsuan
Masih ingatkah engkau
Disaat mentari mulai menepi
Dihamparan rumput nan luas menhijau
Tak sebanding dengan luka di hati
Senja itu tak pernah ku lupa
Disaat engkau buka tirai hatimu
Janganlah kau biarkan matamu berkaca
Tak sanggup ku menatap jatuh air mataku
Ayah begitu besar pengorbananmu
Berjuta rintangan kau lalui
Rela korbankan waktumu
Demi kami disini
Disaat mentari merah mewarnai awan
Membawa membawa kesan dalam hatiku
Yang penuh dengan kepalsuan
Masih ingatkah engkau
Disaat mentari mulai menepi
Dihamparan rumput nan luas menhijau
Tak sebanding dengan luka di hati
Senja itu tak pernah ku lupa
Disaat engkau buka tirai hatimu
Janganlah kau biarkan matamu berkaca
Tak sanggup ku menatap jatuh air mataku
Ayah begitu besar pengorbananmu
Berjuta rintangan kau lalui
Rela korbankan waktumu
Demi kami disini
RASULULLAH DOKTER TAULADAN
Syarmadel langsung menunduk dan mencium lutut Rasul, kemudian memeluk Islam, dan berkata, ”Wahai Muhammad saw, demi zat yang telah mengutusmu dengan hak, engkaulah yang lebih pandai dari aku dalam kedokteran, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya. Dari kisah inilah, tak bisa disangkal bahwa nabi Muhammad saw adalah seorang dokter. Meski tak ada satu kisah pun yang menceritakan dari mana nabi belajar medis. Tentu saja, sebagai utusan Allah, nabi memiliki ilmu mukasyafah, yang bersifat batiniah. Hanya Allahlah yang mengajarkan ilmu ini. “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karunia Allah sangat besar atasmu (QS. An-Nisa: 113)
Informasi tentang medis dan anatomi tubuh manusia banyak ditemukan dalam berbagai hadist nabi, yang kemudian dibuktikan dalam ilmu kedokteran modern saat ini. Misalnya, soal sendi manusia yang disebutkan nabi berjumlah 360. Hingga tahun 1996, ilmu kedokteran modern masih menyatakan jumlah sendi 340. Namun, setelah diteliti lagi ternyata ada susunan sendi yang menyatu, jika dipisah-pisah lagi, jumlahnya menjadi 360, sesuai dengan hadist nabi. Informasi lain yang menakjubkan, misalnya soal fase-fase penciptaan manusia. Seorang pakar embrio dari Kanada, Kate Moore sempat penasaran dan ingin membuktikan secara ilmiah apa yang ditulis dalam Al-quran dan Hadist, tentang proses embrional manusia yang mencapai lima periode, mulai dari tahap saripati tanah, air mani, segumpal darah, segumpal daging dan terakhir tulang belulang yang dibalut dengan daging.
Proses identifikasi kelamin janin pun, sudah dijelaskan dalam sebuah hadist, yaitu setelah air mani mencapai umur empat puluh dua malam di dalam rahim ibunya. Setelah berbagai pengujjian laboratorium inilah, Kate Moore mendapat kebenaran, sehingga ia tersungkur takjub dan masuk islam Berbagai bukti ilmiah ini menambah kadar keyakinan terhadap kesempurnaan Islam. Jejak tauladan yang ditinggalkan Nabi pun, jadi rujukan yang tak lekang ditelan masa. Termasuk, bagaimana nabi menjelaskan soal kesehatan dan pengobatan.
Filsafat thibbun nabawi, seperti diulas Abdul Basith Muhammad Sayyid dalam bukunya, Ath-Thib Al ‘Wiqa’i minal Quran was-Sunah mengacu pada tiga hal, yaitu, pertama, membersihkan dari unsur khurafat dan sihir: kedua, lebih mementingkan tindakan pencegahan penyakit; ketiga, mempraktekan tindakan pengobatan saat dibutuhkan. Cara hidup nabi yang sehat sudah banyak diulas. Seperti diungkapkan oleh Anas ra, “Rasulullah saw berkulit cerah, seakan-akan keringatnya adalah mutiara, jalannya tegap, tidak pernah menyentuh sutera, dan tidak ada yang lebih lembut dari telapak tangan nabi saw. Aku tidak pernah mencium minyak wangi misik dan ambar yang lebih wangi dari aroma beliau (Musnad Ahmad).
Dalam berbagai hadist, nabi menyulas soal kebersihan sangat detail, baik kebersihan fisik, maupun lingkungan. Ia mengajarkan kepada umatnya, mulai memotong kuku, membersihkan ruas jari, mencabut bulu ketiak, bersiwaq hingga bagaimana cara beliau makan. Bahkan, untuk soal makan saja, nabi merincinya, karena nabi berkata pada istrinya, “wahai Aisyah menahan diri adalah obat, perut adalah sarang penyakit, dan biasakan setiap anggota badan sesuai kemampuannya.” Beberapa anjuran dalam soal makan dan supaya terhindar dari penyakit, misalnya melarang meniup makanan atau bernapas dalam gelas, tidak pernah tidur dengan tangan masih ada bekas makanan dan gigi ada bekas makanan, tidak makan kecuali setelah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, mengkonsumsi buah-buahan dan biji-bijian serta madu, berpuasa dan berolahraga.
Fakta-fakta di atas menunjukkan betapa Rasululloh ternyata juga mengerti dan paham soal kesehatan. Islam sebagai sebuah pedoman hidup yang paripurna ternyata tidak hanya mengatur persoalan nilai-nilai saja, namun ternyata juga memberikan panduan yang rinci bagi umatnya dalam menyelesaikan problem kesehatannya. Pada edisi berikutnya akan diulas tentang pedoman-pedoman dan syariat pengobatan yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Karena tidak sedikit muslim yang terjebak kesyirikan dan kemurtadan ketika berikhtiar mencari solusi bagi problem kesehatannya. Alih-alih mendapatkan berkah kesehatan, banyak kaum muslim malah terjerembab dalam praktek kemusyrikan dan bahkan tidak jarang yang tergadaikan aqidahnya alias murtad. Naudzubillah ..........
I LOVE UMMI
I LOVE UMMI
Kasih sayangmu adalah
satu keindahan
Perhatianmu adalah
Satu keikhlasan
Ummi….
Masa kecilku adalah
masa susah payahmu
Masa dewasaku adalah
masa senjamu
Ummi….
Langkahmu pasti
jadikan aku insan berarti
Cintamu suci
jadikan aku insan berbakti
Terimakasih ummi….
Ummi
Langganan:
Postingan (Atom)
